My Opening Message :
FF ini judulnya Confession yang aku ambil dari lagu KimBum-Confession! Ini FF Special bagiku karena, aku suka inti cerita ini! FF ini bercerita tentang yeoja yang benci KPOP namun, yeoja itu bersahabat dengan seorang KPOP Star, baca aja ceritanya, ya! Kalau mau baca lebih baik pagi-pagi sambil dengerin lagu "Come Back To Me-Utada Hikaru", "One-SHINee", "Love Melody-SNSD"! Langsung aja, ya!
Author : Afviya ShiningSapphire Aff(x)tionSone
Title : Confession 1
Genre : Romance, Sad, Friendship
Cast : Kim Yoora, Lee Taemin (+: Choi Minho, Jung Hei-shin, All of SHINee’s Member)
Length : Three Shoot Fanfiction
-Yoora-
“Hei-shin! Ayo, ke kafe!” pekikku memanggil sahabatku yang masih sibuk dengan laptopnya. Aku merasa bosan dikelas, teman-teman selalu membicarakan tentang hal itu. Aku mau makan dikafe.
“Ne, tapi nanti, ya! Aku sibuk!” jawab sahabatku itu tanpa melihatku sama sekali dan ‘masih’ menatap laptopnya tajam begitu juga dengan teman-temanku yang lain semua sama saja.
“Ne, aku ke kafe belakang dulu!” seruku sambil mengulas senyum yang penuh dusta. Ne, aku kesal dan bosan karena mereka seperti itu setiap hari.
“Sungguh membosankan! Semua orang sibuk membahas yang namanya SHINee, gara-gara boyband itu, aku tidak bisa bersenang-senang dengan sahabatku! Aku tidak tertarik mengetahui band KPOP, aku hanya suka mendengar lagunya, itu saja sudah cukup, tidak perlu tahu yang lain apalagi dance, tidak, aku juga tidak suka itu. Aku tidak suka namja-namja kurang kerjaan seperti itu!” celotehku sambil menuruni tangga. Di lapangan, aku melihat anak-anak lain sedang bermain basket dan voli.
“Taemiiin, tangkap!” teriak seseorang. Aku pun sekilas bola itu dan orang yang menangkapnya.
“Namja itu namanya Taemin! Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu, ah… entahlah! (*barusan denger) Namja yang cukup tinggi dengan rambut lurus…tidak…tidak lurus, bukan, ah…entahlah yang penting warnanya pirang hampir sebahu, tidak seperti yeoja walaupun wajahnya ramah dan lembut tapi, sisi namjanya tetap terlihat. Style yang keren!” gumamku sambil berjalan tertunduk sesekali melirik namja itu. (*emang Taemin rambutnya gaje ‘ditimpukin taemints’)
Tiba-tiba, ada yang menyenggol bahuku dari belakang. Aku menoleh kebelakang
“Aduh, mianhae!” seru namja itu sambil mengulas senyum yang cute. Omo, namja yang bernama Taemin tadi! Aku pun berjalan lagi ke kafe sekolah tanpa menoleh kebelakang lagi. Senyumannya itu, ah … entahlah! (*entahlah mulu!)
“Ne, aku yakin! Aku pernah melihatnya!” pikirku lagi sambil mengaduk-aduk sodaku di kafe dan membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi. (*ya, barusan liatkan! ’author nyambung bisa diem gk!’)
-Taemin-
“Taemiin tangkap!” teriak temanku yang melempar bola ke arahku. Aku sedang melihat yeoja aneh yang mengoceh sendiri. (*gila jgn” tu cwe) Aku ingin tertawa melihat tingkah yeoja itu tapi, yeoja itu cukup menarik. Tersadar dari lamunanku, aku berlari mengejar bola yang dilempar temanku.
“Aduh, mianhae!” ujarku kaget karena, menabrak seseorang ternyata yeoja tadi. Tapi, aku langsung mengulas senyum, dia hanya melihatku dengan pandangan heran lalu berjalan tertunduk lagi.
Bel berbunyi,
“Ya, Taemin kau kembali!” “Kau sepertinya punya banyak kegiatan!” “Dia kan baru mengeluarkan album baru!” “Hah, jangan terlalu sombong!” “Kau bukan apa-apa!” caci teman-temanku yang mungkin iri padaku. Mereka selalu mencaci-makiku padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.
“Terserah kalian, aku sudah bosan mendengar kalian!” pikirku sambil menunduk memasukkan buku-bukuku kedalam tas. Aku tak peduli, mereka mengerumuniku seperti ini. Aku sudah sabar menghadapi mereka selama 2 tahun terakhir ini. Setelah selesai, aku langsung menembus kerumunan mereka menuju pintu kelas.
-Yoora-
“Hei-shin, ayo pulang!” pekikku ‘sekali lagi’ mengajaknya pulang.
“Duluan saja! Aku belum mau pulang!” balasnya ‘masih’ sibuk dengan laptop dan SHINeenya itu begitu juga teman-temanku, semua sama saja.
“Ne, kalau begitu aku duluan!” lanjutku selagi berjalan menuju pintu kelas. Dia hanya mengangguk tanpa melihatku sama sekali.
“Itu gedung SMA namja, kan! Hampir 3 tahun disini, aku belum pernah kesana! Aku mau lihat kesana lagi pula murid namja pasti sudah pulang!” gumamku yakin berjalan di koridor sekolah sambil melihat gedung diseberang.
“Sama saja, tak ada beda!” pikirku sambil terus berjalan menyusuri koridor gedung namja itu. Di SMA ini gedung kelas namja dan yeoja terpisah namun, masih satu lingkungan.
“Ya, Taemin kau kembali!” “Kau sepertinya punya banyak kegiatan!” “Dia kan baru mengeluarkan album baru” “Hah, jangan terlalu sombong!” “Kau bukan apa-apa!” ujar beberapa orang. Aku mencari arah suara itu. Ternyata, dari kelas ini. Aku mencoba melihat dari jendela. (*wah, gk boleh ngintip”) Aku melihat seorang namja yang menunduk dan teman-teman yangsedang mengejeknya. Tunggu, itu namja tadi. Aku mulai menuju depan pintu, ingin melihat lebih jelas.
“Omo! Taemin!” seruku. Aku tersentak kaget saat ada seorang namja tepat didepanku. Aduh, hampir saja aku jantungan.
Dia tidak mengulas senyum lagi, dia hanya menunduk dan melihatku heran. Lalu, aku mundur beberapa langkah untuk memberinya jalan.
“Taemin! Benar, itu dia.” gumamku melihatnya mulai melangkah menjauh.
“Mianhamnida, tunggu!” aku berteriak sambil mengikutinya dari belakang. Aku benar-benar penasaran dengan namja itu.
“Tunggu, apa yang terjadi denganmu?” tanyaku sambil mensejajari langkahnya. Dia hanya diam sambil menatap langkahnya.
“Mungkin, dia belum bisa bercerita, dia juga belum mengenalkukan?” pikirku terus memandanginya berharap dia akan menjawab rasa penasaranku.
“Baiklah, jika kau tak mau menjelaskannya sekarang! Aku duluan saja, ya!” ujarku sambil tersenyum berusaha untuk menghiburnya. Aku pun berjalan menuju gerbang duluan.
“Mungkin nanti ada kesempatan lain!” gumamku sambil berlari-lari kecil
----------^-^
“Lagi, lagi, aku makan sendirian!” celotehku ‘lagi’ sambil menunggu pesananku dikasir kafe.
Aku akan berjalan ke meja tanpa menatap jalan hanya menatap nampan berisi sepiring nasi dan segelas minuman yang kubawa. Aku belum dari tadi malam sehingga aku sangat lapar.
“Aduh!” pekikku. Sepertinya, aku menabrak orang dan sodaku tumpah.
“Mi, mianhae!” ujarku gelagapan lalu, melihat orang yang kutabrak. Omo! Taemin! Apakah ini kesempatan lainnya? Tak akan ku sia-siakan.
“Jeongmal mianhae!” aku segera mengambil tisuku dan mencoba membersihkan bajunya yang kotor.
“Gwenchana!” ujarnya dengan ulasan senyum cutenya ‘lagi’ seperti di lapangan kemarin sambil menyela tanganku dengan genggaman yang sangat lembut. Omo, kehangatan tangan lembutnya! Dia langsung mengambil tisu yang kupegang dan membersihkannya sendiri.
“Mianhae, maafkan aku. Hmm, ottoke aku mentraktirmu makan saja, mau?” ajakku ragu sambil melihatnya membersihkan baju seragamnya karena, aku merasa bersalah.
“Pesan ‘paket 2’ satu lagi!” seruku langsung kearah kasir.
“Gwenchana, tidak usah!” ujarnya menolak ajakanku.
“Sudah, ini tanda permintaan maafku! Kau duduk disana saja duluan!” lanjutku sambil menunjuk kesebuah meja. Akhirnya dia menerima ajakanku.
-Taemin-
“Jeongmal mianhae!” gumam yeoja itu lagi lalu duduk dihadapanku membawa pesanannya. Aku hanya mengangguk.
“Kau, kau namja yang kemarinkan! Cheonen Kim Yoora imnida, kelas 3!” ujarnya ramah sambil tersenyum. Aku membalas uluran tangannya dan menjabatnya. Dia sangat menarik, bisakah aku mengetahui yeoja ini lebih jauh?
“Lee Taemin imnida, kelas 3!” jawabku membalas keramahannya.
“Lee Taemin, nama yang mudah diingat. Kelas 3 juga, ne! Oh ne, kemarin saat istirahat kau sepertinya sangat senang tapi, tapi, saat pulang……” dia memandangku sekilas “saat pulang kau tidak seperti itu, kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Kau kan baru mengenalku, mungkin kau belum percaya denganku. Tidak apa-apa, kok!” ujarnya gugup dan terdiam melihatku yang sedang memandangnya. Ne, aku menopang dagu sambil melihatnya berceloteh. Yeoja ini sangat ribut tapi, suaranya membuatku gembira. Aku suka sifat yeoja ini.
“Ottoke aku bisa bicara?” gumamku pelan sangat pelan sambil tersenyum ‘lagi’ melihat tingkahnya ternyata dia mendengarnya.
“Hmm, mianhae. Aku memang suka mengoceh tapi, kalau kau tidak suka aku, aku, akan diam!” gumamnya sambil menunduk dan menyuap makanannya lagi.
“Aniyo, jangan!” jawabku langsung mungkin dia merasa terkejut. Ne, hari yang gembira hanya aku rasakan saat bersama SHINee. Entah mengapa, melihatnya mengoceh, aku seperti sedang di dorm dan bersenang-senang bersama SHINee.
“Jadi, apa kau mau menceritakannya?” tanyanya penasaran dan penuh harap. Aku membalasnya dengan senyuman. (*aduh Oppa senyum trus, kesini senyumnya jgn ke Yoora mulu! ‘taemints stuju’)
“Mollae, mereka selalu seperti itu padaku padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun!” ujarku sambil menaikkan bahu tanda bahwa aku juga tidak mengerti maksud mereka.
“Hmm, seperti itu. Seharusnya kau melawannya! Hmm, apa kau mau berteman, tidak, maksudku bersahabat denganku?” tanyanya tiba-tiba sambil memandangku. Aku terkejut mendengarnya.
“Bukankah aku baru mengenalnya barusan! Dia mau menganggapku sahabat! Yeoja ini tidak pikir panjang, dia kan belum tau sifatku, perilakuku!” pikirku sekilas memandangnya.
“Bukankah kau sudah punya banyak teman, mungkin sahabat?” tanyaku ragu.
“Ne, tapi, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ottoke? Aku benci kesepian, aku tidak bisa melakukan segala sesuatu sendirian. Sepertinya, kau juga. Jadi ottoke?” tanyanya penuh harap ‘lagi’. Yeoja ini sangat aneh, dia kesepian tetap seceria ini. Tapi, dia memang benar, aku tidak punya siapa-siapa disekolah ini. Mungkin, …
“Hmm, baiklah.” aku mengangguk dan mengulas senyumku lagi. Sebenarnya, aku tidak terbiasa tersenyum di sekolah. Baru dan hanya pada yeoja ini. Aku pikir dan aku harap dia yeoja baik yang mengerti aku. Yeoja ini semakin menarik saja.
“Gomawo, Taemin!” ujarnya dengan nada senang.
“Cheonma!” jawabku lembut.
“Baiklah, aku akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu, Taemin!” lanjutnya masih dengan nada senangnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Hidupnya kesepian namun, masih bisa gembira seperti itu. Mungkin, arti kesepiannya berbeda dengan kesepian bagiku. Aku harap ini awal persahabatan yang baik.
“Ne. Aku berjanji kita akan selalu bersahabat!” ujarku padanya yakin.
-Yoora-
“Hari ini sepi sekali padahal baru jam 4 sore!” gumamku sambil melihat kesekelilingku. Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki, aku menghentikan langkahku dan menoleh kebelakang namun tak ada siapa-siapa. Aku pun mulai berjalan lebih cepat karena takut.
“Siapa? Tak ada siapa-siapa. Aku benci suasana sepi seperti ini! Ayolah, jangan takut Yoora!” gumamku sambil menghentikan langkahku sebentar. Tiba-tiba, ada yang menutup mulutku dari belakang. Aku tersentak kaget.
“Tolong-tolong!” pekikku. Lalu, datang satu orang lagi.
“Ya, kau noona yeppeo. Sedang apa disini? Mau ditemani? Hari ini bagus untuk kita!” seru namja itu dengan pandangan yang menurutku jahat, sangat jahat.
“Lepaskan aku!” pekikku sambil mencoba melepaskan diri. Akhirnya, aku bisa lepas, aku berlari. Tapi, hpku terjatuh. Aku berusah mengambilnya tapi, mereka mendekat, aku terjatuh di dinding koridor yang sudah sepi.
“Pergi! Kalian pergi!” pekikku berusaha mengelak dari mereka.
-Taemin-
“Suara siapa itu?” pikirku sambil berjalan menyusuri koridor menuju gerbang. Tapi, teriakan itu semakin keras. Aku mencari sumber suara itu.
“Hentikan!” teriakku.
“Ya, ternyata ada namjachingunya!” “Hah, dia bukan apa-apa!” gumam dua namja yang terlihat kasar.
“Pergi kalian!” teriakku lagi.
“Taemiin! Jangan, kau akan terluka!” teriak seorang yeoja yang terlihat sangat ketakutan. Aku melihat yeoja itu, Yoora! Aku kaget melihatnya mungkin aku belum terlambat menolongnya.
“Ya, anak kecil saja sudah sombong!” ujar salah satu dari mereka yang mendekatiku dan yang lain menyekap Yoora.
“Jangan sentuh dia!” teriakku lagi. Mereka melepaskan Yoora lalu mendekatiku, mungkin ingin menghajarku. Omo, aku sama sekali tidak mengerti bela diri! Sekarang aku hanya bisa menghindar.
“Boleh juga kau!” ujar mereka. Aku hanya belajar sedikit bela diri dari Minho hyung, aku baru bisa menghindar tapi, aku tidak bisa melawan mereka.
“Awas kalian!” teriak Yoora tiba-tiba memukulkan sebuah balok kayu kepunggung mereka. Mereka langsung terjatuh dan pingsan.
“Taemiiin!” teriaknya tiba-tiba memelukku. Omo, entah mengapa, aku langsung membalas pelukannya dengan erat!
“Gwenchanayo?” tanyaku sambil merenggangkan pelukan dan menatapnya. Dia terlihat cemas dan pucat. Aku belum pernah melihatnya ketakutan seperti ini, aku tidak suka dia seperti ini.
“Gwenchana, a…aku benci sepi seperti i…ini!” jawabnya masih dengan nada ketakutan. Aku langsung mengenggam tangannya yang dingin.
“Ayo, kita cepat pergi!” ajakku langsung berlari menariknya pergi jauh dari namja-namja pengganggu tadi. Ini seru tapi, aku harap ini tak terulang lagi.
Tiba-tiba dia terjatuh, aku tersentak.
“Yoora, gwenchanayo?” tanyaku khawatir. Dia hanya memegang pergelangan kakinya yang kesakitan. Aku tidak berani menyentuhnya.
“Naiklah, naik kepunggungku!” perintahku tanpa berpikir lagi. (*hah, Oppa so sweet ‘taemints cmburu’)
“Aniyo, tidak perlu!” tolaknya.
“Sudah, gwenchana!” perintahku ‘lagi’ dengan nada memaksa. Akhirnya, dia mau.
“Taemin, jeongmal mianhae!” ujarnya seperti penuh rasa bersalah.
“Untuk apa? Kau tidak salah!” gumamku.
“Jika kau tak ada tadi, apa yang akan terjadi denganku? Ghamsahamnida, Taemin!” ujarnya lagi dengan nada lemah.
“Jangan pikirkan itu lagi!” seruku. Lalu, dia turun dari gendonganku saat sampai di gerbang sekolah.
“Jeongmal ghamsahamnida! Jujur, aku benar-benar takut tadi!” ujarnya masih dengan nada ketakutan itu lagi. Tanpa berpikir lagi, aku langsung memeluknya ‘lagi’.
“Jangan pernah sendirian lagi! Aku juga akan berusaha menjadi sahabat terbaikmu! Aku akan bersamamu!” seruku meyakinkan sambil memasukkan secarik kertas kedalam tasnya.
“Ghamsahamnida, Taemin. Mianhae, sudah merepotkanmu. Seharusnya, aku yang berusaha menjadi sahabat terbaikmu. Annyeong!” ucapnya sambil tersenyum lalu menunduk dan pergi, senyum yang belum sepenuhnya tenang. Tapi, itu sudah cukup bagiku, aku tidak suka melihat wajahnya ketakutan seperti tadi.
“Cheonma, jangan lupa dirumah periksa tasmu!” teriakku. Baiklah waktunya aku pulang juga.
At the dorm,
“Maknae, ayo latihan!” pekik Minho hyung.
“Ne.” aku langsung berlari mendekatinya. Kami latihan untuk performance terbaik kami sekitar seminggu lagi.
“Aduh, sakit!” gumamku.
“Wae baru sekarang sakitnya? Gara-gara menggendong yeoja itu! Tapi, siapa juga yang minta, aku sendiri yang memaksanya. Taemin, kau perilakumu aneh?” pikirku lagi sambil mengelus-elus punggungku.
“Ada apa?” gumam Minho hyung membuyarkan celotehanku.
“Gwenchana. Aku mau istirahat dulu, latihannya nanti saja sekalian sama hyung yang lain.” jawabku mengalihkan.
“Omo! Aniyo, memang kau kenapa?” tanya Minho hyung mulai curiga.
“Gwenchana." aku mencoba mengelak dan pergi ke kamar.
-Author-
“Taemin, dia namja yang sangat baik! Aku suka kehangatannya itu!” gumam Yoora sambil mengobrak-abrik tasnya dan merapikan buku-buku.
“Tunggu, kertas apa ini?” pikir Yoora bingung saat menemukan secarik kertas didalam tasnya.
“Oh ne, tadi Taemin bilang periksa tasku saat sampai di rumah!” pikir Yoora sambil membuka lipatan kertas itu.
Jika kau membutuhkanku lagi
xxxxxx180793 (*author rhasiakan! Hehehe…)
Sahabatmu,
“Ne, tak mungkin salah lagi! Baiklah,” gumam Yoora sambil membuka flap hpnya.
_Taemin, ini nomormukan?_
“Hah, pasti yeoja itu!” pikir Taemin dilain tempat sambil tersenyum bahagia membaca sebuah pesan. (*yg dbwh ni lwat sms)
_Hm, mungkin_
_Kau jangan main-main! Apa maksud kalimatmu ‘Jika kau membutuhkanku lagi’?_
_Entahlah, kurasa kau akan membutuhkanku_
_Maksudmu?_
“Entahlah, sebenarnya aku juga tidak mengerti maksudku! Memang aneh tapi, perasaanku mengatakan itu! Aku juga tidak mengerti, Yoora!” gumam Taemin mengetuk-ngetukkan hpnya dilutut.
_Ne, kau membutuhkan sahabatkan! Berarti kau membutuhkanku!_
“Omo, apa yang terjadi denganku? Baru 2 hari aku mengenalnya tapi, mengapa aku merasa sudah lama mengenalnya? Aku merasa gembira dan nyaman didekatnya. Perasaan yang aneh! Apakah ini rasanya bersahabat dengan yeoja atau …” gumam Taemin lalu tersentak kaget saat hpnya berbunyi.
-Geobuhal su eobtneun neoeui maryeokeun LUCIFER-
_Kau benar juga. Ya, mungkin aku akan membutuhkanmu lagi atau selalu?_
“Omo, sejak kapan aku segembira ini membalas sebuah SMS! Yoora, kau yeoja yang benar-benar aneh! Jujur, aku memang menyukai sikap dan penasaran dengan namja itu. Keinginanku semula hanya ingin mengenalnya tapi, sekarang aku bersahabat dengannya. Tidak lebih…tidak lebih lagi…ini… sebatas ini saja sudah cukup!” gumam Yoora sambil menatap hpnya yang diletakkan diatas meja.
_Sekarang, aku benarkan! Jangan membantah lagi!_
_Ne, seosaengnim :-P_
_Sekarang kau yang mulai bercanda?_
_Aniyo Taemin Oppa. Jangan marah!_
_Oppa?_
“Pabo! Kenapa aku menyebutnya Taemin Oppa? Ada apa ini?” pekik Yoora sambil memukul kepalanya sendiri.
_Mianhae Oppa_
_Oppa lagi?_
“Yoora pabo! Lagi-lagi kau mengetik kata O P P A!” gumam Yoora lagi sambil mengeja kata Oppa.
_Jeongmal mianhae, aku salah ketik terus!_
_Aniyo, gwenchana. Dari pada kau salah ketik terus atau salah bicara, lebih baik panggil aku Taemin Oppa saja! Gwenchana ;-)_
_Ah, benarkah Taemin Oppa? Jeongmal ghamsahamnida. Tapi, umur kita kan hanya beda bulan!_
_Gwenchana. Memang kapan kau ulang tahun?_
_17 April. Kalau beda umurnya dekat nanti dikiranya_
“Aduh, Yoora jangan berpikir yang tidak-tidak! Yoora, dia sahabatmu! Kalau kau salah ketik ‘lagi’ mungkin kau akan dijauhinya! Taemin Oppa, kumohon kau sabar menghadapiku, aku memang seperti ini!” gumam Yoora sambil memandang hpnya menunggu balasan SMS dari Taemin. (*mengkhayal)
_Dikira apa? Faktanya kan bukan itu, sudahlah tak usah diperpanjang. Nan gwenchana_
“Sebenarnya, kau bisa saja benar Yoora. Tapi, mana mungkin aku menjelaskan hal itu sekarang sementara aku sendiri tidak mengerti perasaan ini! Menyukai? Itu terlalu cepat dan aku pun belum pernah merasakannya.” gumam Taemin.
_Gwenchanayo Oppa?_
“Taemin Oppa, aku yakin kau bisa bertahan denganku! Mianhae, aku memang sepeti ini!” pikirku sambil tersenyum melihat hpku.
_Gwenchana, Yoora!_
_Jeongmal ghamsahamnida!_
_Cheonma, Yoora ;-)
-Taemin-
“Yeoja ini ternyata lucu sekali. Meski dia selalu gembira ternyata dia juga punya rasa takut dan khawatir! Benar-benar menarik! Sepertinya aku bisa mengenalnya lebih jauh!” gumam Taemin sambil tersenyum sendiri. (*dua-duanya gila kayanya, ‘ditimpukin taemints ‘lagi’)
“Yeoja yang mana?” tanya Minho hyung tiba-tiba di depan pintu kamar mengagetkanku.
“Ah…aniyo, bukan yeoja…bukan!” lagi-lagi aku mengelak.
“Impossible. Satu, aku tidak mungkin salah dengar, kau menyebut kata YEOJA. dua aku tidak mungkin salah lihat, kau senyum-senyum sendiri!” ujar Minho dengan senyum nakalnya.
“Aniyo, aniyo, apa saja yang hyung lihat dari tadi?” tanyaku sedikit menggertak walaupun sebenarnya tidak akan berpengaruh padanya. (*Oppa betul! aku sndiri ktawa ngeliat Oppa marah hehehe…)
“Jadi, siapa yeoja itu? Tell me! Aku pikir kau hanya berteman dengan namja!” kalimat Minho hyung mulai menjebakku.
“Yeo…yeoja itu? Aku memang hanya berteman dengan namja!” gumamku sedikit gugup sambil memeluk lututku.
“Ne, berarti yeoja itu bukan temanmu tapi, yeojachingumu!” ujar Minho hyung berusaha memastikan tebakannya.
“Belum…eh bukan…maksudku tidak! Dia hanya teman…eh bukan…sahabat maksudku!” jawabku gelagapan, sangat gugup. Entahlah, seharusnya aku tidak gugup, dia kan hanya sahabatku. (*belum? wah, gawat, nih!)
“Ha, kau ketauan! Mengaku saja! Kau sedang mengejarnya? Jarang-jarang yeoja bersahabat dengan namja, apalagi namja itu adalah Lee Taemin!” canda Minho hyung. Perkiraan Minho hyung itu benar-benar menjebakku. Mungkin, aku harus bercerita dengannya.
“Hmm baiklah, jadi aku sering bertemu dengannya tanpa sengaja. Akhirnya, kami berkenalan. Dia menganggapku sebagai sahabatnya. Entah mengapa sejak aku mengenalnya di sekolah, sekolah tidak lagi membosankan bagiku! Gembira seperti disini!” jelasku tanpa menatap Minho hyung. Aku yakin, dia akan menertawakanku.
“Oh begitu, lanjutkanlah!” serunya yang membuatku tak mengerti.
“Maksudnya?” ujarku bingung sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Bersahabatlah dengannya jika ternyata kau menyukainya, nyatakan pada saat yang tepat!” saran Minho hyung. Aku hanya membalasnya dengan anggukkan.
“Mungkin, itu benar. Aku harus meyakinkan diriku, ini rasa suka pada sahabat atau rasa suka yang lain?” pikirku.
“Oh ya, bukankah besok 17 April berarti besok dia ulang tahun!” pikirku lagi sambil menopang dagu.
“Hyung, besok dia ulang tahun, apa yang harus kulakukan?” tanyaku meminta saran lagi pada salah satu hyungku di SHINee itu.
“Taemiiin…Taemin…kau ini! Berikan hadiah terbaik padanya! Sepertinya, otakmu sedang tidak bekerja, ne!” ujar Minho sambil menggelengkan kepala dan mengacak pelan rambutku.
“Hyung!!!” gertakku ‘lagi’ sambil melempar bantal kearahnya.
“Oh ne, jangan bilang siapa-siapa dulu soal ini!” seruku sambil menyiapkan bantal untuk dilempar padanya jika dia bercanda lagi.
“Hmm, ottoke, ne?” gumamnya sambil melangkah mundur ke arah pintu.
“Hyung!!!” gertakku lagi-lagi. (*sudahlah Oppa, gertakan itu gk pengaruh buat Minho Oppa! ‘author bisa diem gk!’)
“Baiklah!” ujarnya langsung keluar dan menutup kenop pintu.
“Hadiah! Hadiah! Aku belum tau apapun soal hal yang dia sukai dan tidak! Jadi, ottoke?” gumamku sambil menutup wajahku dengan bantal dan mencoba untuk tidur.
----------^-^
-Author-
“Wae tak ada bus hari ini? Bisa-bisa aku terlambat! Ottoke, ottoke ini?” celoteh Yoora seperti biasa sambil menoleh sesekali kearah datangnya bus yang tak datang-datang.
“Yoora! Apa benar itu Yoora?” gumam Taemin sambil melihat kaca spion motornya. Taemin langsung memutar balik motornya ke arah halte.
“Yoora! Naiklah sebelum kau telat!” perintah Taemin seperti kemarin sambil membuka kaca helm putihnya.
“Ha, Taemin Oppa! Tidak usah, tidak usah! Gomawo!” tolak Yoora sambil mengulas senyum yang membuat Taemin semakin memaksanya.
“Naiklah, cepat! Kalau kau telat, kau tidak bisa masuk sekolah hari ini!” seru Taemin memaksa sambil menyodorkan helm putih ke Yoora. Yoora pun akhirnya naik kemotor Taemin.
“Yoora! Yoora!” panggil Taemin sambil melirik kaca spion motornya. Taemin langsung menancap gasnya lebih kuat. Yoora pun kaget dan langsung menarik jaket putih Taemin.
“Oppa! Jangan kencang-kencang!” pekik Yoora. Taemin malah makin memperkencang laju motornya. Dan sekali lagi Yoora kaget, Yoora refleks memeluk Taemin.
“Maka nya dengar aku!” balas Taemin.
“Ne, mianhae!” ujar Yoora kesal.
“Yoora, kau suka musik apa?” tanya Taemin tiba-tiba.
“Entahlah, aku ingin mengetahui hal yang dia suka! Aku pikir, aku bisa menghiburnya lewat lagu!” pikir Taemin.
“Aniyo, aku tidak suka musik!” gumam Yoora.
“Omo! Wae?” tanya Taemin dengan nada terkejut.
“Ceritanya panjang. Nanti akan ku ceritakan! Wae Oppa?” pekik Yoora karena suara Taemin kurang terdengar.
“Gwenchana.” jawab Taemin dengan suara yang semakin lembut.
“Berarti dia tidak suka atau tidak tau SHINee! Pantas saja dia tidak mengenalku!” pikir Taemin sambil sesekali melirik kaca spion motornya.
“Huuuh, untung belum telat!” gumam Yoora sambil melepaskan helmnya di parkiran.
“Jeongmal ghamsahamnida, Oppa!” ujar Yoora manja dengan senyum terbaiknya.
“Cheonma.” jawab Taemin santai sambil melepaskan helmnya.
“Oppa, wae banyak yang memperhatikan kita?” tanya Yoora bingung sambil menoleh ke sekelilingnya.
“Mollae. Biarkan saja!” jawab Taemin menutupi.
“Tidak bisa. Aku tidak bisa memberitahu soal SHINee sekarang sebelum aku tau ceritanya!” pikir Taemin meyakinkan diri sendiri.
-Taemin-
At break time in the school roof,
“Yoora, mengapa kau mengajakku kesini?” tanyaku bingung melihat kesekelilingku.
“Temani aku menenangkan diri disini Oppa! Udara disini sangat segar! Aku mohon sebentar saja!” ujarnya dengan suara parau dan matanya mulai berkaca-kaca saat menoleh padaku.
“Dangsin wae, Yoora?” tanyaku bingung melihatnya.
“Oppa, mau tau tentang musik kesukaanku kan?” aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Jadi 5 tahun yang lalu, aku sangat menyukai musik R&B dan dance! Sangat, sangat! Aku menyukai sebuah boyband, aku menabung untuk membeli album dan aksesoris mereka, aku bolos untuk mengikuti jumpa fans mereka. Dan tepat, saat ulang tahunku, eonniku ingin member hadiah tiket konser tunggal mereka. Tapi, eonni kecelakaan setelah mengantarku ke konser itu. Ummaku orangnya keras, dia pun marah besar padaku. Dan memberhentikanku dari SMP karena, eonniku tidak bisa sekolah lagi setelah itu, dia lumpuh dan Ummaku bilang jika tujuanku KPOP, aku tidak perlu sekolah. Aku sangat terpukul, aku pergi dari rumah dan aku diadopsi oleh sebuah keluarga sederhana. Mereka menyekolahkanku lagi hingga sekarang! Dan 2 hal yang membuatku teringat kembali dengan hal itu! Hari ini dan ‘SHINee’ boyband yang sangat terkenal akhir-akhir ini!, aku takut semua terulang kembali!” jelasnya panjang. Tanpa pikir lagi, aku langsung memeluknya. Sekarang, aku mengerti semuanya. Aku tidak bisa memeberitahu soal SHINee padanya sekarang, waktunya sangat tidak tepat.
-Yoora-
Aku membalas pelukannya dengan erat.
“Entah mengapa, baru kali ini aku mempercayai orang seperti ini. Hanya Taemin yang aku beritahu! Mollae, aku merasa tenang bersamanya dengan kehangatannya ini!” pikirku.
“Jangan menangis lagi! Sekarang, aku bersamamu!” gumam Taemin Oppa sambil mengusap tangisku.
“Jeongmal ghamsahamnida, Oppa! Aku selalu menyulitkanmu!” gumamku sambil menatapnya dengan mataku yang masih basah.
“Gwenchana. Itu gunanya sahabat!” jawab Oppa lembut. Tersadar dari segalanya. ‘Sahabat’!! katanya. Ne, dia ‘sahabat’ku! Aku langsung melepaskan pelukannya. Dia heran melihat tingkahku. Aku berusah mengalihkan suasana.
“Oppa benar. Itu guna sahabat!” seruku. Dia hanya mengangguk dan masih terlihat heran.
“Yoora, aku akan menghiburmu lagi! Apa kau mau?” kali ini aku yang mengangguk.
“Baiklah, tunggu aku di jembatan Seoul dekat halte tadi pagi jam 7 malam! Berhati-hatilah!” ujarnya lembut dengan senyum cutenya yang membuatku membalas senyuman itu.
“Jeongma ghamsahamnida, Oppa! Kau Oppa ku yang nomor 1!” ujarku dengan nada senang meyakinkannya dan lebih menghibur diri sendiri.
“Jam 7! Aduh!!! Sudah jam 06.30! Mana, ya? Ini sajalah!” gumamku menatap jam sekilas sambil mengobrak-abrik lemari untuk mencari pakaian.
“Wae aku sibuk banget? Aku hanya ingin bertemu sahabatku di jembatan! Tapi, aku ingin tampil sebaik mungkin untuknya, perasaan yang aneh!” gumamku lagi sambil membayangkan senyum Taemin Oppa. (*huaa, aku juga mau!)
At the bridge,
“Untung dekat! Mana Oppa, ne? Huuh, dingin sekali! Pabo, kenapa aku pakai dress seperti ini! Ingat, dia itu sahabatmu bukan namjachingumu, yeoja pabo!” gumamku lagi sambil memukul kepalaku sendiri dan melihat kesekelilingku.
“Aku disini! Kau bukan yeoja pabo bagiku!” tiba-tiba seorang namja menjawab gumamanku dari belakang dan memakaikanku jas.
“Omo, Taemin…Op…Oppa!” aku langsung menoleh kebelakang. Dia melihatku dari ujung kaki sampai rambut.
“Noona neomu yeppeo! Pakai saja jasku, kau kan kedinginan!” ujarnya lembut sambil tersenyum dan mengelus pundakku.
“Op…Oppa!” seruku kaget melihatnya, stylenya sangat keren padahal pakaiannya biasa saja. (*keren/cakep/mempesona? ‘author gawat’)
“Wae? Ada yang aneh?” tanyanya melihat wajahku yang keheranan.
“Aniyo! Aniyo! Oppa, kita mau melakukan apa disini?” ujarku mengalihkan pembicaraan.
“Hmm, kita mau merayakan ulang tahunmu! Hari ini kan! Oh ne, ini untukmu!” ujarnya lalu berdiri disebelahku sambil memandang sungai. Dia memberiku serangkai mawar putih. Indah…! Aku pun mencium wangi semerbaknya.
“Mianhae, aku tidak tau kesukaanmu! Jadi, aku hanya bisa menyiapkan hal-hal kecil seperti ini!” ujarnya sambil memandangku yang sedang mencium bunga yang diberikannya.
“Aniyo, gwenchana! Gomawo Oppa!” jawabku dengan senyum terbaikku ‘lagi’.
“Dengar baik-baik lagu ini dan pandanglah langit itu!” ujarnya sambil menunjuk ke arah langit dan menghidupkan sebuah lagu dari mp3 player putih yang dibawanya.
“SHINee, ne, ini lagu SHINee!” pikirku sambil menikmati alunan lagu dan angin kencang yang menerpaku
Tiba-tiba, aku mendengar suara ledakan, aku langsung melihat ke arah langit. Ada kembang api yang sangat indah.
“Happy Birthday, Yoora!” gumamku sambil membaca kembang api yang membetuk sebuah kalimat itu. Indah, ini lebih indah lagi dari bunga itu! Aku terharu melihat ini semua. Baru kali ini ada yang merayakan ulang tahunku seperti ini.
“Saengil chukkaehamnida, Yoora!” ujarnya memandangku yang terpesona dengan semuanya.
“Lagu ‘Your Name’ dari SHINee, serangkai bunga mawar, dan kembang api ‘Happy Birthday’ hanya itu, mianhae!” ujarnya lagi sambil tersenyum pahit.
“Aniyo, jeongmal ghamsahamnida, Oppa! Jeongmal ghamsahamnida!” ujarku langsung memeluknya erat. Ya, 1, 2, 3 kali aku memeluknya. Aku tidak bisa menghentikannya, aku merasa sangat membutuhkan kehangatannya ini. Aku tau dia kaget melihatku tapi, dia membalasnya lebih erat. Aku tidak akan pernah melupakan perayaan ini.
“Wae kau menangis? Hadiahku jelek, ya!” gumamnya sambil merenggangkan pelukanku dan menatapku. Wajahnya terlihat kecewa.
“Aniyo, baru kali ini aku mendapat hadiah seindah ini! Ini sudah cukup, Oppa! Jeongmal, jeongmal ghamsahamnida!” ujarku disela-sela tangisku lalu menunduk.
“Jangan, jangan menangis seperti itu lagi dihadapanku!” dia mengangkat daguku dan mengusap air mataku ‘lagi’.
“Lalu, jika aku menangis dibelakangmu, ottoke?” tanyaku lalu, menatapnya lagi. Dia memegang pipiku lagi, aku memejamkan mataku merasakan kehangatan sentuhannya. Taemin Oppa, mollae. Perasaaan apa ini? Aku belum pernah merasakan ini! Tiba-tiba, aku merasa ada yang menyentuh bibirku. Taemin Oppa menciumku! Pabo, aku tidak bisa mengelak, wae tubuhku kaku seperti ini? ‘Sekali lagi’ aku tersadar dari semuanya,
“First kiss dengan sahabatku sendiri, aniyo!” gertakku dalam hati pada diri sendiri. Aku yakin, wajahku sudah memerah, aku harus mengakhiri hal ini.
-Taemin-
“Lalu, jika aku menangis dibelakangmu, ottoke?” tanyanya lalu menatapku lagi. Sejujurnya tidak, aku tidak mau kau menangis dihadapanku apalagi dibelakangku. Aku menatap matanya dalam-dalam merasakan perasaannya selama ini. Dan tanpa kusadari ‘lagi’, aku menyentuh pipinya, aku tau ini tidak bisa tapi, aku tidak bisa menghentikannya. Omo, aku menciumnya, aku tau dia terkejut dan dia berusaha melepaskan diri dariku. Aku sendiri terkejut dengan perilakuku ini, aku pun melepaskannya.
“Jeongmal mianhae, Yoora!” ujarku lemah melepaskan tanganku dari wajahnya.
“Gwenchana.” ujarnya lebih lembut dariku tanpa menatapku sama sekali.
“Mianhae, aku tidak bermaksud ….” dia langsung menyelaku.
“Sudah, gwenchana. Sudah malam, aku pulang dulu, ya! Jeongmal ghamsahamnida!” selanya lalu, berbalik dan berlari pergi, jasku pun terjatuh dari tubuhnya.
“Yoora, jeongmal mianhae! Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan itu tapi, hatiku…aaah aku tidak mengerti ini, Yoora!” gumamku membentak diri sendiri.
“Taemiiinn!!” teriak seseorang.
“Minho hyung!” jawabku lemah.
“Ottoke yeoja yang bernam Kim Yoora itu?” tanyanya langsung.
“Success, hyung! Gomawo kembang apinya!” ujarku sambil mengulas senyum pahit.
“Tapi, wae dia pulang? Apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya mulai penasaran ‘lagi’. Aku tidak mungkin menceritakannya. Aku akan mencari jalan keluar masalah ini sendiri. Ini soal perasaanku sendiri.
“Tidak ada, ini sudah malam waktunya dia pulang! Ayo, kita pulang juga!” ujarku mengalihkan pembicaraan dan langsung merangkulnya.
-Yoora-
“Sudah, gwenchana. Sudah malam, aku pulang dulu, ya! Ghamsahamnida!” ujarku langsung menyela perkataannya. Aku berbalik dan berlari pulang seraya menyentuh bibirku.
At the home,
“Wae? Ada apa denganku? Apa yang kulakukan?” aku menangis dan berteriak sendiri di kamar.
“Sahabat, sahabat terbaik! Persahabatan macam apa ini? Dia memperlakukanku layaknya yeojachingunya tapi, wae aku menerimanya dengan senang hati? Perasaanku terasa tenang, nyaman, dan senang saat bersamanya. Seharusnya, persahabatan tidak seperti ini, perasaan apa ini? Apa begini bersahabat dengan seorang namja? Seharusnya, aku tidak boleh melakukan hal ini! Ingat S A H A B A T! Dia bukan N A M J A C H I N G Umu! Aku tidak mungkin menyukainyakan?” gumamku membentak diriku sendiri.
----------^-^
“Yoora, aku mohon sekali saja! Ayo, lihat ini! Performance SHINee yang menurutku paling bagus!” teriak Hei-shin padaku.
“Aniyo, aku tidak suka melihat mereka Hei-shin!” balasku dengan teriakan yang lebih keras lalu, berjalan menuju pintu kelas.
“Aku mohon kali ini saja, aku yakin kau pasti suka!” teriaknya lagi. Baiklah, demi sahabat terbaikku. Aku akan melihat boyband SHINee itu!
“Ayo, duduk disini!” ujar temanku menunjuk sebuah kursi disebelahnya, aku pun duduk di kursi itu.
“Coba kau lihat video ini!” lanjutnya sambil memutar beberapa video SHINee. Baru kali ini, aku melihat yang namanya boyband SHINee itu. Tunggu, siapa itu? Aku merasa tidak asing dengannya!
“Tunggu, coba replay lagi, aku mau lihat namja yang itu!” ujarku penasaran sambil menunjuk layar laptopnya.
“Ini! Ini namanya Taemin, Lee Taemin! Dia bersekolah disini juga! Aku sering melihatnya dari jauh!” jelasnya sambil menampilkan beberapa foto Taemin.
“Omo! Taemin…Taemin…Oppa!” aku tersentak kaget.
“Oh ne, ada news baru tentangnya! Aku dapat foto-foto ini, kemarin! Aku sungguh sedih melihat foto-foto ini! Sepertinya, dia sudah mempunyai kekasih! Foto-fotonya sudah menyebar di internet tadi malam! Aku langsung print! Ku pikir dia Sulli f(x)!” gumam sahabatku dengan nada kecewa.
“Mana? Aku mau lihat!” seruku penasaran.
“Ini!” dia memberiku sebuah amplop didalamnya terdapat beberapa foto. Aku memerhatikan foto-foto itu. Foto pertama, di atap gedung sekolah, di kafe, dan di jembatan dekat halte. Setelah kuperhatikan, aku rasa ini diriku sendiri.
“Taemin! Kau sungguh gila! Apa maumu sebenarnya?” pikirku geram.
“Mianhae, aku pinjam dulu foto-foto ini!” teriakku langsung berlari keluar kelas. Hei-shin hanya mengangguk keheranan.
_Oppa! Temui aku di atap sekolah sekarang!_
Aku menunggunya di atap sekolah sambil melihat foto-foto itu lagi.
“Yoora! Ada apa?” ujarnya lembut .
“Siapa dirimu sebenarnya?” tanyaku berbalik menghadapnya.
“Apa maksudmu?” ujarnya bingung.
“Kau tidak usah berbohong. Apakah kau seorang artis, seorang member boyband, salah seorang member SHINee? Apa aku benar, hah?” ujarku sinis terus menghujamnya dengan berbagai pertanyaan.
“Yoo…Yoora tunggu, aku bisa menjelaskan ini semua!” ujarnya dengan nada membela, senyumnya pun hilang seketika.
“Lihat ini! Apa maksud semua ini?” tanyaku sambil memberikan foto-foto itu. Dia melihatnya satu-persatu. Tampaknya, dia juga terlihat kaget.
“Fansmu pikir, yeoja ini Sulli f(x)! Apa kau sedang memanfaatkanku?” lanjutku masih dengan nada sinis memandangnya.
“Omo, Sulli! Sungguh, bukan aku yang membuat apalagi menyebarkan foto-foto ini!” gumamnya sambil mengembalikan foto-foto itu padaku.
“Wajah Taemin Oppa sangat tidak bersalah lalu, siapa yang melakukan ini? Tapi, wae Oppa harus bohong padaku tentang identitasnya?” pikirku terus memandang wajahnya.
“Lupakan saja masalah ini! Sekarang, wae kau berbohong padaku selama ini? Aku sudah memberitahu segala tentang diriku padamu, aku pikir kau bisa dipercaya! Tapi, apa? Kau curang! Apa salahnya kau bercerita bahwa kau salah seorang member SHINee, hah? Sekarang…sekarang sudah terlambat, aku sudah tau semuanya sendiri, kau tidak perlu menyembunyikannya! Sebenarnya, mudah sekali mengetahui bahwa kau adalah ‘Maknae Lee Taemin Handy Boy SHINee’! ” bentakku dengan suara yang mulai parau dan menekankan kata ‘Maknae Lee Taemin Handy Boy SHINee’.
“Jeongmal, jeongmal mianhae! Sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi, setelah tahu semua masa lalumu itu! Aku tidak bisa memberitahumu saat itu! Aku takut kau menjauhiku dan meninggalkanku! Kau tau, aku tidak punya siapa-siapa disini!” ujarnya melemah, suaranya sangat lembut seperti angin yang berhembus saat itu.
“Kau egois! Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu!” bentakku, pandanganku pun mulai kabur karena, mataku yang berkaca-kaca. Aku pun langsung meninggalkannya.
“Yoora! Yooraaaa, mianhae! Aku tau aku egois tapi, jangan jauhi aku!” dia berteriak. Aku masih bisa mendengarnya. Aku tidak mengerti lagi, apa yang harus kulakukan sekarang, Oppa?
-Taemin-
_Kumohon maafkan aku! Kumohon maafkan aku! Jeongmal Mianhae!_
_Aku tau aku salah tapi, aku tidak bisa bilang padamu saat itu! Aku takut perasaanmu semakin memburuk! Aku takut kau meninggalkanku! Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi!_
_Yoora, jeongmal mianhae!_
“Yoora, jeongmal mianhae!” hanya itu yang kupikirkan sekarang.
“Ternyata dia tau segalanya sekarang bahkan nicnameku di SHINee!” gumamku. Aku terus menelponnya dan mengirim SMS tapi, tak ada jawaban. Sampai-sampai hari ini aku disuruh keluar oleh seosaengnim. Pikiranku hanya fokus padanya. Huuuh, hari ini aku juga mulai latihan dance lagi.
In dance exercise room,
“Taemin, wae kau melihat jendela terus?” tanya seseorang.
“Hah…aniyo…aniyo, gwenchana.” bantahku sedikit tersentak mendengar suara yeoja yang memecah keheningan saat itu. Ne, aku berharap Yoora melewati ruang dance tapi, negatif, dia hanya halusinasiku.
“Jangan berbohong! Tell me! Gwenchana!” ujar yeoja itu lagi.
“Mianhae, Sulli! Mungkin lain kali akan kuceritakan! Aku pulang dulu, ne!” ujarku lalu meraih tasku dan pulang.
“Ne, annyeong!” jawabnya sambil melambaikan tangan.
Seminggu berlalu,(*cepet amat!!!)
“Lee Taemin! Keluar!” teriak seosaengnim yang membuyarkan lamunanku.
“Uuuuu, pulang sana! Wae sekolah?” “Dasar artis sombong!” “Taku usah kembali lagi kau!” pekik teman-temanku yang lain seperti biasa.
“Ssst, diam kalian!” bentak seosaengnim.Ne, dalam seminggu ini, aku sudah disuruh keluar 5x oleh seosaengnim gara-gara melamun terus.
“Yoora, jangan jauhi aku seperti ini! Aku ingin melihat kau tersenyum dan mengoceh seperti biasa sekarang, aku merasa kembali ke 2 tahun lalu, sebelum bertemu denganmu.” Gumamku sambil berjalan mengelilingi gedung karena tidak tau harus kemana.
“Yoora! Sedang apa kamu? Jika tak mau belajar keluar!” teriak seorang seosaengnim. Aku mengintip di jendela sebuah kelas. (*ini ngintip ‘lagi’, gk boleh!) Ada seorang yeoja yang sedang melamun dan dimarahi seosaengnimnya.
“Ne, seosaengnim!” jawabnya santai dan langsung keluar dari kelas. Aku pun berbalik ingin melihatnya. Omo? Yoora!
“Ada apa kau kesini?” tanyanya sinis saat berpapasan denganku dan langsung berbalik arah.
“Tunggu, tunggu, Yoora!” aku meraih tangannya.
“Lepaskan aku! Sekarang, masih jam pelajaran, jangan ribut!” pekiknya padaku. Aku melepaskannya dan membiarkannya pergi.
“Haaah, Taemin dan Yoora?” “Jadi, yeoja itu Yoora! “Taemiiin!” aku mendengar teriakan-teriakan. Saat ku lihat ke kelas Yoora ternyata, semuanya sedang memperhatikan aku. Seosaengnimnya pun akan keluar dari pada urusannya bertambah panjang dan aku harus mendengar ocehannya, aku pun berlari pergi secepatnya dari sana.
In dance exercise room ‘again’,
“Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah dia juga merasakan perasaan aneh sepertiku ini?” lamunku sambil menatap jendela seperti biasa dan membayangkan peristiwa Yoora tadi.
“Taemin, break time! Ayo minum dulu!” seru seorang yeoja berjalan menuju ke arahku membawa sebotol isotonik .
“Aniyo, Sulli! Kau saja!” balasku.
“Ada apa ……”
“Awas, Sulli!” pekikku langsung menahannya saat dia tersandung kabel speaker.
“Mianhae,” ujarnya langsung berdiri. Ne, dia hampir saja menimpaku dan aku langsung menahannya sehingga hampir memeluknya.
“Gwenchana, berhati-hatilah!” saranku sambil melepaskan tanganku dari pundaknya. Tiba-tiba, aku mendengar kenop pintu berbunyi. Aku langsung melihat ke arah jendela. Apa itu Yoora?
“Sebentar, Sulli!” gumamku. Aku langsung berlari keluar. Dia hanya mengangguk kebingungan.
“Yoora! Tunggu!” aku berteriak memanggilnya. Kebetulan koridor sangat sepi.
“Yoora, aku bisa menjelaskan ini semua!” ujarku langsung meraih tangannya ‘lagi’.
“Kau tidak perlu menjelaskannya, ini bukan urusanku juga!” pekiknya dengan nada cuek berusaha melepaskan tanganku namun, aku memegangnya dengan erat.
“Mianhae, aku tidak bermaksud untuk …” sela Sulli tiba-tiba datang.
“Pergi! Ini bukan urusanmu!” pekik Yoora lagi.
“Mianhae, Sulli!” seruku. Dia pun pergi dan menjauh.
“Yoora, jangan seperti ini! Jangan jauhi, jangan tinggalkan, dan jangan pernah pergi dariku!” ujarku langsung memeluknya. Aku mengerti sekarang, ini bukan perasaan suka karena bersahabat tapi, ini suka tanda …
“Yoora, aku tau ini terlalu cepat dan sangat lancang! Tapi, aku tidak bisa menahannya! Jeongmal saranghamnida, Kim Yoora!” ujarku lembut dan mempererat pelukanku. Tidak seperti biasa, dia tidak membalas pelukanku itu.
-Yoora-
“Mianhae Oppa! Sejujurnya, aku sangat merindukanmu tapi, tidak bisa dia adalah salah satu orang yang harusnya aku lupakan! Dia selalu mengingatkanku pada peristiwa kecelakaan eonni!” gumamku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju gerbang sekolah.
“Omo! Wae aku sampai sini?” gumamku setelah menyadari aku melewati ruang dance. (*wah, insting soulmate! Hehehe…) Aku melihat-lihat sampai mataku memandang Taemin yang terlihat lelah namun, tetap tersenyum pada seorang yeoja. Aku pikir senyum itu hanya untukku ternyata tidak, aku terlalu berharap! Dasar yeoja pabo! Aku terus berjalan menuju pintu dance melihat Taemin lebih dekat. (*kasian!)
“Omo? Dia memeluk yeoja itu!” gumamku melihat Taemin dan yeoja itu. Tiba-tiba, napasku sesak, dadaku sakit dan tanpa kusadari air mataku telah jatuh.
“Aku sangat merindukannya tapi, wae aku harus melihatnya saat bersama yeoja lain?” gumamku lagi sambil mengusap tangisku. Aku merapatkan pintu itu dan berlari sebelum Taemin melihatku.
“Yoora! Tunggu!” teriak seseorang. Itu suara Taemin Oppa.
“Yoora, aku bisa menjelaskan ini semua!” ujarnya langsung meraih tanganku.
“Kau tidak perlu menjelaskannya, ini bukan urusanku juga!” pekikku parau berusaha melepaskan tanganku yang digenggam erat olehnya.
“Mianhae, aku tidak bermaksud untuk …” sela yeoja tadi tiba-tiba datang.
“Pergi! Ini bukan urusanmu!” pekikku dengan suara parau lagi.
“Mianhae, Sulli!” seru Taemin. Yeoja itu pun pergi dan menjauh.
“Yoora, jangan seperti ini! Jangan jauhi, jangan tinggalkan, dan jangan pernah pergi dariku!” ujarnya langsung memelukku.
“Yoora, aku tau ini terlalu cepat dan sangat lancang! Tapi, aku tidak bisa menahannya! Jeongmal saranghamnida, Kim Yoora!” ujarnya lembut dan mempererat pelukannya. Aku hanya terdiam terpaku, aku hanya mendengar suaranya yang lembut mengucapkan kalimat-kalimat itu. Detak jantungku pun berdetak lebih cepat, aku tidak bisa melepaskan pelukan itu ataupun membalasnya. Air mataku pun mengalir kembali. Seandainya saja ini lebih cepat terjadi mungkin perasaanku tidak terlanjur terluka.
“Aku tau aku salah besar! Aku memang curang dan egois! Aku melanggar janjiku agar selalu bersahabat denganmu, aku terlanjur menyukaimu bukan sebagai sahabat tapi lebih, aku sangat merindukanmu!” ujarnyanya lembut lagi. Sejujurnya, perasaanku juga begitu. Aku sangat merindukan kehangatanmu ini. Mungkin, aku juga menyukaimu. Tapi, ……
“Taemin Oppa! Lupakan aku, lupakan semuanya! Ada Sulli bersamamu, aku bisa pergi sekarang! Aku tidak sanggup membayangkan hal itu lagi karenamu!” ujarku lemah membalas kelembutannya. Pelukannya pun merenggang, dia membiarkanku pergi.
----------^-^
“Yoora! Annyeonghaseyo?” sapa teman-temanku saat aku baru datang. Aneh, wae mereka baik sekali denganku?
“Yoora! Apa kabar Taemin?” tanya teman-teman mengerumuni mejaku. Hmm, gara-gara namja itu!
“Mollae, apa urusanku!” ujarku santai.
“Yoora, ceritakan tentangnya!” seru teman-temanku dengan penuh harap.
“Apa yang akan kuceritakan? Kalian pasti sudah tau semua tentangnya dan itu memang benar, dia memang orang yang seperti itu! Lupakan peristiwa kemarin, aku tidak mau bicara tentangnya lagi!” ujarku dengan nada kesal.
“Jangan lepaskan dia! Kau sangat beruntung!” ujar Hei-shin ikut membuatku semakin pusing.
“Aniyo, aniyo. Ambil saja dia, terserah kalian!” ujarku tanpa menatap mereka sedikitpun.
“Yaaah, Yoora, tell us!” pinta teman-teman kecewa karena, aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut lagipula seosaengnim sudah datang.
“Yoora, kau beruntung! Kau memiliki Taemin dan teman-teman seperti ini! Mereka tidak membully-ingmu seperti teman-teman Taemin!” gumam Hei-shin sambil memandangku. Ne, kalau begini membully-ing cara halus. Bertanya hal-hal seperti itu padaku, sama saja kan!
“Hah, aku sudah melupakannya!” ujarku dengan nada masih kesal. Benar juga, untung saja teman-teman tidak menghujamku dengan kata-kata buruk seperti, teman-teman Taemin Oppa!
At break time in the class,
“Bosan, aku sangat bosan! Stasiun ini saja biasanya lagu-lagunya bagus!” gumamku sambil menyetel radio di mp3 playerku dan mendengarnya lewat headset.
_Masih di stasiun 89,1 MHz ‘KBS Radio’! Sekarang, kita sudah bersama salah satu Boyband paling Daebak! SHINing SHINee!_
_Annyeonghaseyo, SHawol! We are SHINing SHINee! Mianhae, Taemin masih sekolah dan tak bisa hadir!_
_Oh begitu, gwenchana SHINee! Mari kita mulai pembicaraannya! Kalian akan mengadakan konser bertajuk ‘Welcome to the SHINee World with SHINing SHINee’ bisa dijelaskan, Leader Onew?_ (*ada ya? ada”in)
_Oh ne, konser akan diadakan besok! SHawol pasti sudah tau kabar ini, tiket pun sudah terjual habis! Kami merasa sangat senang dan akan menampilkan yang terbaik_
_Oh ne, sebelum dilanjutkan. Mari kita dengarkan lagu SHINee yang berikut ini!_
Nee gin saeng.meori nan hwanghol.haeNal seuchyeogal ddae ajjil.han geol nan
Geureol ddaemada nan nee yeppeun eereumeul
Bulleobogo shipeo eereok.hae
Gakkeum neega seulpeul ddaen
Nan neo.ae mameul molla
Geureol.ddae nan kiseuhaji
Neo.ae jakeun son.ae ipmachoom
Geureok.hae poollindamyeon nan meot beonirado
Nareul boolleojweo my name
Oneuli baro your day
Neoreul wihae modeungeol haejul
Namani hal su itneun jakeun sunmooleul
Kkok negae jugo shipeo jigeum dalryeoga gobaek.halgeoya
Saebbalgan ipsool dalkomhan neoae geu ipsool
Seolleyeo jeom.jeom ddeolryeowa
Neoreul bol ddaemada neoreul gatgo shipeo
Gatchi chana hanjan hajago malhaebolkka yeah
Hamkkae hago shipeun game jongil hago shipeunde
Neon nae mameul moreuneun geoni
Oneulun kkok dan hana neega haengbokhagae
Kkamjjak nollan mankeum nae sarangeul soksakil geoya
Neoae jakun gwitga.ae ipmachoom
Ipsool kkeutae geollineun hanmadi.ae nan mumchoom
Sesangae joongshim.aeseo neo.aegae gidaelgae
Geurigo ddaseuhagae soksakilgae
Manyeonpil gateun moseupeuro byeonhaji annun uri sarang
Kkok neo.ae mamae jeokeo dul kkeoya
Nae sonjapa naneun yeojeonhee falling in love with you
Nareul boolleojweo my name
Oneuli baro your day
Neoreul wihae modeungeol haejul
Namani hal su itneun jakeun sunmooleul
Kkok negae jugo shipeo jigeum dalryeoga gobaek.halgeoya
Hamkkae hago shipeun game jongil hago shipeunde
Neon nae mameul moreuneun geoni
Oneulun kkok dan hana neega haengbokhagae
Kkamjjak nollan mankeum nae sarangeul soksakil geoya
(Neol saranghae) Soksakilgeoya
Boolleojweo my name baby (Boolleojweo my name baby)
Oneuli your day baby (Oneuli your day baby)
Boolleojweo my name
“Ini kan lagu yang diputar Oppa saat di jembatan itu!” gumamku mendengar alunan lagu itu sambil terus melahap bekalku. Aku terus membayangkan peristiwa-peristiwa saat aku bersama Taemin, aku sangat merindukannya. Lagu itu pun berakhir.
“Yoora! Yoora!” panggil temanku yang ternyata sudah duduk disampingku dari tadi.
“Muo?” tanyaku tersentak.
“Apa kau sudah tau tentang konser terbaru SHINee?” tanyanya penuh harap.
“Sudah.” jawabku santai
“Dari Taemin Oppa, ne! Apa dia mengundangmu? Kau akan ikut kan?” tanya Hei-shin langsung.
“Aniyo. Dari radio yang sedang kudengar. Aku tidak mau ikut!” ujarku yakin sambil meminum air putihku.
“Yaaah Yoora! Kau tau, kelas kita mendapat kursi VIP baris kedua! Aku senang sekali! Aku ingin melihat wajah Onew Oppa dari dekat!” pekik Hei-shin kegirangan.
“Hmm, terserah!” jawabku sambil mengaduk-aduk nasiku. Nafsu makanku hilang.
“Oh ne, apa kau sedang berkelahi dengan Taemin Oppa?” tanya Hei-shin dengan nada curiga.
“Tau dari mana kau?” tanyaku.
“Karena, biasanya kau sering ke luar kelas dan ke kafe! Tapi, belakangan ini kau selalu membawa bekal dan jarang keluar kelas!” jelasnya.
“Begitu! Mungkin perkiraanmu benar!” gumamku dengan nada datar yang membuat temanku itu kebingungan.
_Yoora, pulang nanti ke atap gedung, ne! Aku mohon!_
At come home time in the school roof,
“Huuuh, lagi-lagi aku yang menunggu!” keluhku sambil melihat jam tanganku.
“Sudah lama, ya?” tiba-tiba terdengar suara dari belakangku.
“Gwenchana. Sekarang, apa maumu lagi? Sudah kubilang lupakan aku dan semuanya!” ujarku dengan nada tinggi.
“Mau ku hanya satu Yoora, ini terakhir kalinya! Setelah itu aku berjanji untuk melupakanmu dan semua peristiwa kita!” ujarnya membalas kesinisanku dengan suara lembutnya.
“Oh, begitu. Apa maumu?” tanyaku berusaha dengan nada sedatar mungkin. Jujur, aku terkejut Oppa mengucapkan kata-kata itu ‘Melupakan segalanya’.
“Ini. Datanglah dan lihat konser SHINee untuk pertama dan terakhir kalinya!” ujarnya smbil memberikan sebuah tiket konser padaku.
“Kau kan tau aku sangat menghindari hal ini!” ujarku berusaha menolaknya.
“Aku mohon, kali ini saja!” ujarnya dengan nada memohon.
“Baiklah, akan kupikirkan! Setelah itu lupakan semuanya!” ujarku dan langsung mengambil tiket yang sodorkannya itu. Dia pun mengangguk dan tersenyum senang. Aku pun pergi meninggalkannya.
“Ghasahamnida, Yoora!” teriaknya. Lagi-lagi suaranya masih terdengar.
“Cheonma, Oppa!” gumamku menjawabnya walau suaraku tidak mungkin di dengar olehnya.
----------^-^
_Yoora apa kau akan datang ke konser SHINee?_
_Ne, ne, Hei-shin! Aku sedang bersiap-siap!_
_Okay, nanti aku jemput jam 05.30! Kita harus cepat disana pasti sudah ramai!_
_Ne, gomawo, Hei-shin!_
“Aduh!!! Wae seperti ini lagi? Aku sudah bukan siapa-siapanya lagi, wae aku masih ingin tampil sebaik mungkin didepannya? Tapi, gwenchana, ini kan terakhir kali aku bertemu dengannya setelah itu, semuanya akan berjalan seperti biasa dan lebih baik!” celotehku sambil meyakinkan diri seraya masih mengobrak-abrik lemari pakaianku.
“Ah, ini saja!” gumamku tersenyum sendiri melihat mini dress dengan bleizer hitam yang tergantung di lemari.
“Yoora, masuk!” pekik temanku saat membuka pagar rumahku. Aku langsung masuk ke dalam mobil mercynya.
“Gomawo, Hei-shin! Mobilku sedang rusak!” keluhku.
“Gwenchana! Dangsin neomu yeppeo!” seru temanku memandangku dari ujung kaki hingga rambutku.
“Hmm, ghamsahamnida!” gumamku sambil melihat dress yang kupakai sendiri.
“Apa kau tau, dress warna seperti itu adalah kesukaan Taemin, warna hitam dan putih seperti pakaian Taemin di MV Love Like Oxygen (Sansogateunno)!” ujar temanku itu seraya menyetir mobilnya.
“Oh.” jawabku datar sebenarnya dalam pikiranku adalah “Benarkah? Aku tidak menyangka kesukaan kami sama!” tapi, mana mungkin aku mengatakan itu saat suasana rumit seperti ini!
-Nareul boolleojweo my name-
_Yoboseyo! Ada apa lagi?...Ne…Di jalan…Ne Oppa!...Annyeong!_
“Tumben sekali dia menelponku, biasanya juga SMS!” pikirku sambil memandang jalan dari jendela.
“Yoora, tadi Taemin, ne?” tanya Hei-shin membuyarkan kefokusanku memandang suasanamalam.
“Aa…Ne…ne!” ujarku gelagapan.
“Kau memanggilnya Oppa, apa dia sudah menjadi namjachingumu?” tanyanya lagi yang membuatku terkejut.
“Hah…aniyo…aniyo. Aku hanya bersahabat dengannya tapi, dia memintaku untuk memanggilnya Taemin Oppa!” bantahku.
“Hmm, begitu. Oh ne, sejak kapan kau memakai lagu ‘Your Name-SHINee’ untuk nada deringmu?” tanya Hei-shin lagi.
“Oh, lagu itu! Sejak suatu peristiwa terjadi!” jawabku sambil mengulas senyum padanya. Ne, sejak peristiwa di jembatan, aku langsung men-download lagu SHINee yang satu itu.
“ Kita sudah sampai. Kita parkir mobil dulu!” ujar Hei-shin sambil memarkirkan mobilnya.
“Disini sudah sangat ramai padahal konser dimulai 1 jam lagi sama seperti, DBSK dulu!” (*oh, jadi konser waktu eonninya kecelakaan DBSK, toh! ‘ngangguk” sndiri’)
“Ayo langsung kesana!” ajak Hei-shin langsung menarikku ke pintu masuk. Aku hanya mengikutinya. Dia memeberikan tiketnya, kami pun langsung duduk di tempat. Ternyata, teman-teman yang lain sudah duduk rapi di tempat masing-masing.
One hour later,
“Lagu SHINee World, lagu perkenalan SHINee khusus untuk SHawol!” gumam Hei-shin.
“Itu ‘Handy Boy Leader Dance Maknae Taemin’ kau pasti sudah tau!” ujarnya sambil menunjuk Taemin sambil tersenyum. Aku hanya diam melihat Taemin yang sangat sangat keren! 10x lebih keren dari pada saat di jembatan! (*lebay ‘author mengkhayal’)
“Itu ‘Almighty Key’, dia memang penguasa segalanya! Itu ‘Leader Onew’ biasku yang paling keren! Itu ‘Flaming Charisma Minho’ member SHINee yang paling berkarisma! Nah, itu yang terakhir ‘Bling Bling Leader Voice Jonghyun’ salah satu Golden Voice di Korea!” jelas Hei-shin lagi sambil menunjuk ke arah mereka.
“Keren! Konsernya tidak kalah keren dari DBSK!” gumamku melihat semua style mereka satu-persatu tapi, tetap saja fokus pada Taemin. Sepertinya, dia dekat dengan Minho dan Onew!
“Hei-shin, Taemin paling dekat dengan member yang mana?” tanyaku sekilas menoleh ke belakang. Kursiku ada di depan temn-temanku karena, aku diberi Taemin tiket VIP baris pertama.
“Minho terkadang Onew!” jawab Hei-shin santai dan masih terpukau dengan penampilan mereka begitu juga denganku dan yang lain. Sampai break time SHINee, waktunya band tamu yang menyanyi.
“Lihat, itu Sulli f(x) yang pernah dekat dengan Taemin!” gumam Hei-shin sedikit berbisik. Aku melihat style yeoja dan teman-temannya itu, memang keren. Tapi, aku tidak tahan melihatnya, aku ingin segera pulang. Aku langsung berdiri hendak ke pintu keluar.
“Tunggu, kau mau kemana?” tanya Hei-shin mencegahku.
“Mau ke toilet!” dustaku.
“Awas kau kalau bohong! Jangan coba-coba pulang duluan!” ancam sahabatku itu. Tiba-tiba, seseorang menarik tanganku.
“Oppa! Lepaskan!” ujarku saat melihat namja itu yang menarikku. Fansnya yang lain berteriak melihat Taemin dan memanggil-manggil Taemin. Dia terus menarikku ke belakang stage yang sepi.
“Oppa!!! Apa lagi?” kesalku sambil menghempaskan tangannya.
“Jangan pulang dulu hanya karena melihat Sulli!” gumamnya pelan. Aku terkejut mendengarnya dan langsung memandang matanya yang penuh kelembutan itu.
“Ghamsahamnida, jeongmal ghamsahamnida telah datang!” tiba-tiba dia langsung memelukku erat. Entah mengapa, kali ini aku membalas pelukannya. Kehangatannya masih seperti dulu.
“Aniyo…aniyo Oppa. Ini bukan apa-apa. Tidak sebanding dengan segala yang kau berikan padaku selama ini!” ujarku dengan suara mulai parau, aku mulai melemah, aku tidak tega membentaknya lagi.
“Biarkan aku memelukmu dalam keheningan ini sebentar saja!” pintanya lalu, memelukku lebih erat. Baiklah, walau aku tidak suka sepi tapi, ada Oppa, gwenchana. Aku masih memeluknya, aku sangat rindu kehangatan ini sampai-sampai air mataku mulai jatuh lagi.
“Yoora, mungkin ini benar-benar pertemuan terakhir kita! Jadi, aku harap kau tidak bersedih, aku ingin melihat kau tersenyum untuk terakhir kalinya!” gumamnya sambil merenggangkan pelukannya dan memandangku.
“Kesabaranku sudah habis, aku tidak sanggup menghadapi teman-temanku itu. Aku sudah memutuskan untuk pindah sekolah ke ‘Art High School’ dan aku juga akan berangkat ke Jepang besok untuk debut terbaru SHINee!” ujarnya pelan lagi. Aku benar-benar terkejut mendengar pernyataannya itu, tangisku pun semakin deras.
“Oppa?” aku mencoba memastikan.
“Ne, Yoora.” Jawabnya semakin lemah. Dia pun mengusap tangisku, aku memejamkan mata ‘lagi’ merasakan kehangatan tangannya. Dia menciumku, hanya dahiku. (*huuh, untung cuma dahi! Kalo yang laen ntar author digebukin taemints lagi!)
“Maknae!” panggil seseorang tiba-tiba. Aku langsung menjauh dari Taemin dan mengusap tangisku. Dia terkejut melihat kami.
“Hyung!” Taemin kaget melihat namja itu sepertinya itu Leader Onew.
“Maaf aku menganggu!” ujar Onew ingin berbalik arah lalu, menabrak Jonghyun, Minho, dan Key.
“Aduh!!!” pekik Onew dan yang lain.
“Hyung, aku bisa jelaskan nanti!” ujarnya berusaha menjelaskan.
“Yoora, kau bisa kembali ke kursi penonton!” bisik Oppa.
“Fighting Oppa!” seruku menyemangatinya. Aku pun berlari menuju kursi penonton lewat pintu lain.
“Yoora, kau lama sekali! Kau kemana?” seru Hei-shin dengan nada kesal.
“Hmm, aku kan ke toilet!” jawabku dengan senyum penuh dustaku.
“Eh, kau habis menangis, ya?” tanyanya tiba-tiba dengan pandangan heran.
“Aniyo, aniyo!” bantahku sambil mengusap air mata yang mungkin masih ada di pipiku.
“Oh ne, SHINee akan debut di Jepang, ne?” tanyaku langsung duduk di kursiku kembali.
“Ne. Sepertinya dalam minggu ini mereka akan berangkat ke Jepang!” jelas Hei-shin, aku hanya membalasnya dengan anggukkan.
“Eh, lihat ini pasti lagu Your Name!” pekiknya lagi sambil menunjuk ke arah stage. Aku langsung melihat ke arah stage.
“Lagu ini ciptaan Onew, loh!” seru Hei-shin kegirangan ‘lagi’. Aku menikmati lagu SHINee yang paling berharga bagiku itu.
“Setelah ini, ‘Sad Song Part’!” lanjutnya lagi. Aku menyaksikan semua penampilan mereka termasuk penampilan f(x), Super Junior, dan SNSD sebagai tamu SHINee. ‘Sad Song Part’ mereka sangat bagus, aku sampai menangis melihat Taemin Oppa bernyanyi dengan mata yang berkaca-kaca itu.
-Taemin-
“Hyung, aku bisa jelaskan nanti!” ujarku berusaha menjelaskan.
“Yoora, kau bisa kembali ke kursi penonton!” bisikku pada Yoora.
“Fighting Oppa!” serunya, aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dia pun berlari menuju kursi penonton lewat pintu lain.
“Nanti saja, maknae! Kita selesaikan ini dulu!” ujar Key sambil mengajakku ke ruang make up. Sementara yang lain mengikuti kami dari belakang.
After concert finish,
“Tell us tentang yeoja itu!” perintah Jonghyun dengan nada penasaran.
“Jadi, Taemin punya teman yeoja dan dia menyukainya, begitu intinya, hyung!” jawab Minho hyung.
“Kau sudah tau?” tanya Onew hyung.
“Sudah. Tapi, dia aaaa…” pekik Minho hyung tiba-tiba saat aku menginjak kakinya karena kesal.
“Oh ne, Taemin wae dia menangis tadi? Kau apakan dia?” tanya Minho curiga.
“Gwenchana.” Jawabku singkat dengan nada yang kuusahakan datar agar tak terlihat gugup
“Taemin, ceritakan pada kami, kami akan membantu.” pinta Onew hyung.
“Ne, aku menyukainya tapi, dia sedang marah karena suatu hal padaku, kami pun berjanji untuk tidak bertemu lagi setelah hari ini!” jelasku dengan nada lesu.
“Jangan! Lebih baik kau nyatakan perasaanmu dulu!” saran Jonghyun hyung.
“Minggu ini sekolahmu libur sebelum ujian akhir sekolah kan!” ujar Key hyung, aku hanya mengangguk.
“Ajak saja dia ke Jepang!” lanjut Key hyung santai. Aku kaget mendengarnya. Mereka semua hanya menangguk menandakan dukungan atas usul Key hyung. Akan kupikirkan. Aku mengobrak-abrik ranselku sebentar.
“Sekarang, tanda tangan di semua kertas ini!” perintah Taemin sambil memberikan banyak kertas kosong. Karena, bingung member lain pun menandatanganinya.
“Gomawo, kalian pulang duluan saja!” pekikku langsung membawa ranselku dan berlari keluar dari ruang make up. Mereka pun hanya melihatku bingung dan heran. (*Oppa ini ngerjain orang aja, sempet-sempetnya!)
“Yoora, tunggu!” seruku sambil meraih tangannya.
“Ada apa lagi?” tanyanya bingung.
“Panggil teman-temanmu tadi!” perintahku. Yoora pun memanggil teman-temannya yang sudah di depan pintu keluar. (*aduh!!! Taemin Oppa merintah orang mulu! ‘baru sadar’)
“Ini untuk kalian! Pulang duluan saja, ne! Biar aku yang mengantar Yoora pulang!” ujarku sambil memberikan beberapa kertas pada teman-teman Yoora yang berisi tanda tangan semua member SHINee tadi.
“Ghamsahamnida, Taemin SHINee!” ujar teman-teman Yoora. Mereka pun pergi meninggalkan kami berdua. Yoora hanya melihatku dengan pandangan terkejut, heran, dan bingung. Aku hanya mengulas senyumku seperti biasa padanya.
“Ikut aku!” aku menarik tangannya ke arah pintu belakang menuju parkiran.
“Kau pabo + gila!” pekik Yoora saat aku menancap gas.
“Semalam ini kau bawa aku dengan motor!” pekiknya lagi. Aku langsung mengerem motorku dan berhenti di pinggir jalan. Dia kaget dan seperti saat itu, dia refleks memelukku.
“Oppa!!! Ada apa lagi?” kesalnya. Aku langsung melepas jaketku dan memakaikan jaketku itu padanya. Dia hanya menuruti kataku. Akhir-akhir ini, dia lebih banyak diam.
“Ottoke masih kedinginan?” tanyaku saat mulai menancap gas lagi.
“Aniyo, gomawo Oppa.” jawabnya lembut dan aku bisa melihat dia tersenyum manis dari kaca spion motorku.
“Oppa!” pekiknya ‘lagi’.
“Muo?” tanyaku sambil melihat kaca spion motorku lagi.
“Jeongmal ghamsahamnida! Jeongmal Mianhae!” serunya dengan nada yang pelan.
“Cheonma, ini rumahmu kan!” gumamku sambil mengerem pelan motorku.
“Ne.” jawabnya langsung turun dari motorku.
“Oppa! Hopefully more successful!” ujarnya dengan suara yang mulai parau ‘lagi’.
“Jeongmal ghamsahamnida, Yoora!” ujarku sambil mengenggam tangannya lalu, mencium dahinya ‘lagi’.
“Annyeong!” lanjutku mengucapkan sapaan terakhir dan menancap gas lagi, dia hanya melambaikan tangan padaku.
----------^-^
“Apa kalian semua sudah siap?” tanya managerku.
“Ne. Ayo, berangkat!” jawab Onew hyung sambil memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil SHINee begitu juga denganku dan yang lainnya.
“Taemin! Taemin!” panggil Key hyung mulai kesal dan lamunanku pun buyar.
“Aa…ah…Muo hyung?” tanyaku gelagapan.
“Kau ini. Kau jadi mengajaknya?” tanya Key hyung.
“Ah, entahlah.” jawabku lesu lalu memandang jalan lewat jendela mobil lagi.
In the airport,
“Aduh!!!” pekik seseorang. Kami semua langsung melihat ke arah suara itu.
“Jonghyun hyung!” pekik kami.
“Cedera kakiku kambuh!” seru Jonghyun hyung sambil mengelus kakinya yang sakit.
“Ottoke kalian berangkat duluan saja! Biar aku mengantar Jonghyun pulang, kami akan berangkat jika Jonghyun sudah lebih baik!” tegas managerku.
“Ne, kalian duluan saja. Konsernya kan lusa!” lanjut Jonghyun hyung.
“Aniyo, aniyo. Kita batalkan saja, kita harus berangkat bersama Jonghyun!” bantah Onew hyung.
“Tapi, hyung …” seru Jonghyun hyung.
“Sudah, gwenchana. Biar aku urus pembatalan tiketnya!” sela Key hyung langsung mengambil tiket-tiket kami dan menghilang seketika.
“Taemin! Ini kesempatanmu temui dia!” bisik Minho hyung padaku. Aku mengerti. Aku harus menemuinya tiba-tiba, hpku berbunyi.
-Geobuhal su eobtneun neoeui maryeokeun LUCIFER-
-Yoora-
_Yoboseyo!_
_Yoboseyo! Ada apa Yoora?_
_Aku mau minta tolong!_
_Muo?_
_Aku mau ke airport menemui Taemin! Izinkan aku pada seosaengnim, bilang saja aku sakit! Terserah padamu alasannya!_
_Memang ada apa dengannya?_
_Nanti! Ceritanya panjang!_
_Oh begitu, baiklah. Annyeong!_
_Gomawo. Annyeong_
“Aku harap Taemin Oppa belum berangkat!” harapku selagi berjalan keluar rumah.
“Kali ini aku bolos untuk kedua kalinya. Bukan karena jumpa fans tapi, karena seseorang yang selalu aku rindukan! Gwenchana, ini terakhir kalinya!” pikirku sambil mengeluarkan mobil sportyku di garasi yang baru di service. Di rumah tak ada orang sama sekali jadi, aman untuk kabur. (*wah, jgn dtiru ni!)
In the airport,
“Semoga Taemin Oppa belum berangkat!” harapku ‘lagi’.
“Permisi, apa penerbangan ke Jepang yang pertama pagi ini sudah berangkat?” tanyaku ke bagian informasi saat baru datang di airport.
“Belum. Sebentar lagi akan lepas landas!” jawabnya ramah. Aku langsung berlari dan aku berhenti di depan landasan, mereka baru saja lepas landas. Langkahku langsung terhenti. Aku sangat, sangat kecewa. Aku hanya berpikir untuk menghubunginya.
_Yoboseyo Oppa!_
_Yoboseyo!_
_Pesawatmu sudah berangkat, ya?_
_Ne. Wae?_
_Op, Oppa! Bisakah kita bertemu sekali lagi?_ harapku dengan suara parau, air mataku pun mengalir kembali.
-Author-
Yoora pun berlari mengelilingi airport. Sebenarnya, jarak mereka berdua sangat dekat tapi, Taemin membelakangi Yoora karena, sedang melihat keadaan Jonghyun.
Yoora pun melihat pesawat menuju Jepang telah lepas landas. Tanpa berpikir lagi dia menghubungi Taemin.
_Yoboseyo Oppa!_ sapa Yoora lemah.
“Aku yakin, Yoora ada disini! Aku harus mencarinya!” gumam Taemin langsung berlari mengelilingi airport setelah mendengar suara Yoora.
_Yoboseyo!_ jawab Taemin ramah sambil tersenyum walau Yoora tak bisa melihatnya.
_Pesawatmu sudah berangkat, ya?_ tanya Yoora khawatir.
_Ne. Wae?_ tanya Taemin bingung.
_Op, Oppa! Bisakah kita bertemu sekali lagi?_ tanya Yoora dengan suara parau sambil menangis. Taemin pun menemukan Yoora sedang berdiri di dekat ruang tunggu melihat pesawat menuju Jepang lepas landas dan sepertinya dia sedang menangis.
_Tentu bisa, Yoora!_ jawab Taemin sambil mendekati Yoora dari belakang.
_Kapan?_ tanya Yoora lagi. Yoora pun merasa suara itu sangat dekat dan dia melihat bayangan dari kaca. Dia pun berbalik.
“Taemin Oppa!” Yoora tersentak kaget menjatuhkan hpnya Dia berlari dan memeluk Taemin.
“Yoora, sedang apa kau disini?” tanya Taemin sambil menyisipkan hpnya di saku dan membalas pelukan Yoora.
“A…aku ingin me…meminta maaf pa…padamu!” gumam Yoora masih terisak tangis.
“Apa gunanya?” tanya Taemin santai masih dengan kelembutannya.
“A…aku seharusnya ti…tidak menyalahkanmu, i…ini bu…bukan salahmu!” tangis Yoora pun semakin pecah.
“Tunggu, aku tidak mengerti. Banyak yang melihat kita sekarang, ikut aku dulu!” Taemin melepaskan pelukan dan menarik tangan Yoora.
In the car,
_Yoboseyo Minho hyung!_
_Yoboseyo Taemin! Kau dimana?_
_ Kalian duluan pulang saja, aku ada urusan!_
_Ne. Aku mengerti! Annyeong!_
_Annyeong!_
“Oppa, aku ke airport mau meminta maaf padamu! Kau tidak bersalah! Eonni kecelakaan karena, dia tidak focus mengendarai. Ini salahku, saat dia mengendarai mobil dia sedang menelponku tapi, aku tidak sadar kalau telponnya terputus karena, eonni kecelakaan! Aku trauma dengan KPOP! Tapi, seharusnya aku tidak menyalahkan SHINee apalagi Oppa. Kalian tidak tau-menau. Jeongmal, jeongmal mianhae Taemin Oppa! Yeoja pabo ini tidak pantas menjadi sahabatmu!” ujar Yoora panjang lebar sambil memukul kepalanya sendiri.
“Hahahah,.. Yoora…Yoora!” tawa Taemin.
“Wae? Aku yeoja pabo, ne! Turunkan saja aku disini!” ujar Yoora sambil membuka lock pintu mobil.
“Tunggu, jangan!” pekik Taemin langsung meraih tangan Yoora.
“Kau tidak bersalah! Aku mengerti rasa traumamu! Kalau kau memaksa minta maaf, baiklah kau ku maafkan!” ujar Taemin mengulas senyum cutenya sambil melirik Yoora.
“Lalu, wae kau tertawa?” tanya Yoora kesal.
“Aku sudah lama tidak mendengar kau mengoceh lagi!” jawab Taemin lalu, tertawa lepas.
“Oppa!” panggil Yoora.
“Jangan siksa aku!” canda Taemin sambil menjauhkan diri dari tangan Yoora.
“Jeongmal ghamsahamnida!” seru Yoora sambil mengulas senyum terbaiknya lagi ke arah Taemin.
“Cheonma, Kim Yoora!” jawab Taemin dengan nada senang lalu, memberhentikan mobilnya.
“Wae berhenti disini?” tanya Yoora bingung sambil melihat ke sekelilingnya.
“Temani aku jalan-jalan sebelum aku pergi ke Jepang besok!” ujar Taemin sambil menggandeng Yoora kea rah Jembatan Seoul.
“ Muo besok?” Yoora tersentak kaget.
“Ne. Jonghyun sakit lagi jadi ditunda karena itu, aku tidak jadi berangkat hari ini!” jelas Taemin lalu,berjalan menggandeng Yoora ke arah jembatan Seoul. Mereka pun memandang sungai Seoul seperti saat itu lagi, tenggelam dalam keheningan. Tiba-tiba, Yoora memutar lagu ‘Your Name’ dari mp3 playernya.
“Taemin Oppa! Lagu ‘Your Name’ dari SHINee dan seseorang yang menemanimu jalan-jalan! Aku hanya bisa member itu!” ujar Yoora meniru gaya Taemin seperti saat ulang tahun Yoora.
“Kau Yoora…Yoora! Ghamsahamnida!” seru Taemin sambil mengacak lembut rambut Yoora. Yoora hanya membalasnya dengan senyum manja.
“Yoora! Setelah pulang dari Jepang nanti, aku mau kau bertemu dengan Umma kandungmu dan menjelaskan semuanya! Aku yakin, keluargamu pasti merindukanmu!” Yoora kaget mendengar pernyataan Taemin.
“Ta…tapi Oppa!” sela Yoora sambil melihat Taemin heran.
“Aku akan menemanimu! Aku berjanji padamu!” ujar Taemin yakin. Yoora membalasnya dengan anggukan lalu, memandang sungai itu lagi.
“Satu lagi, ikutlah denganku ke Jepang!” ujar Taemin tiba-tiba sambil menyodorkan dua tiket pada Yoora.
“Oppa?” Yoora pun tersentak kaget dan kebingungan.
“Kau boleh mengajak temanmu itu!” lanjut Taemin.
“Hei-shin! Tapi, aku harus meminta izin pada orangtuaku, ottoke?” tanya Yoora ‘masih’ kebingungan.
“Mudah. Aku akan menemani kau meminta izin pada orangtuamu dan Hei-shin! Aku jamin mereka membolehkannya!” ujar Taemin ‘lebih’ yakin lagi.
“Oppa, kau mau bertemu orangtua angkat dan kandungku! Apa maksdudmu?” tanya Yoora curiga dengan senyum nakal.
“Ingin bertemu calon …” perkataan Taemin tidak terdengar karena, angin kencang dan aliran deras sungai itu.
“Muo? Aku tidak dengar!” pekik Yoora.
“Gwenchana” jawab Taemin menutupi.
“Oppa, aku tidak akan pernah melupakan tempat ini!” gumam Yoora pelan.
“Wae?” tanya Taemin santai.
“Entahlah. Setelah aku tau, aku akan memberitahumu!” jawab Yoora meyakinkan.
“Baiklah. Sekarang, ayo kita ke tempat lain!” Taemin pun menarik tangan Yoora.
-Epilog-
In the park “Lotte World”,
“Oppa, taman ini indah sekali!” gumam Yoora sambil melihat kesekelilingnya dan masih bergandengan tangan dengan Taemin. Taman yang indah penuh lampu-lampu berbentuk hati dan kembang api berbentuk hati yang meledak berkali-kali.
Taemin menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya pada Yoora.
“Yoora, aku ingin mengakui satu hal padamu!” ujar Taemin menatap yeoja yang ada di depannya serius.
“Muo?” tanya Yoora membalas tatapan lembut namja di depannya. Taemin mengenggam tangan Yoora dan menatapnya dalam-dalam. Yoora heran melihat sentuhan Taemin. Jantungnya berdetak sangat kencang dan tubuhnya kaku.
“Jeongmal saranghamnida, Kim Yoora! Apa kau mau menjadi yeojachinguku?” pernyataan Taemin membuat Yoora tersentak.
“Benarkah semua yang Oppa katakana dan semua yang kudengar barusan? Haruskah aku jujur sekarang? Haruskah aku mengaku sekarang?” pikir Yoora terus menatap Taemin dalam-dalam. Wajah Taemin yang penuh harap itu membuat detak jantungku semakin cepat ‘lagi’.
“Oppa…Saranghaeyo Lee Taemin Oppa!” jawabku membalas kelembutannya.
“Jeongmal ghamsahamnida, Yoora!” seru Taemin langsung memeluk Yoora.
“Aniyo. Seharusnya, aku yang berterima kasih padamu! Kau telah memberi banyak hal baru yang tak pernah bisa dan tak akan ku lupakan selamanya!” jawab Yoora parau sambil membalas pelukan Taemin.
“Yoora! Jangan pernah menangis lagi apalagi dalam pelukanku!” Taemin merenggangkan pelukan dan mengusap tangis Yoora lalu, mecium dahi Yoora.
“Sekarang, ayo kesana! Kita lihat kembang api yang indah itu!” ajak Yoora sambil menunjuk ke arah rerumputan. Kedua insan itu pun duduk di rerumputan hijau itu.
“Yoora, apa kau pernah cemburu pada Sulli?” tanya Taemin memecah keheningan dan membuat wajah Yoora menjadi kesal.
“Benarkan! Kau cemburu padanya! Aku tidak akan berpaling darimu, Yoora!” ujar Taemin sambil mengacak lembut rambut dan mencubit pipi Yoora. Taemin pun tertawa mengingat peristiwa-peristiwa itu seraya memandang langit.
“Oppa, kau mau tau soal jembatan itu?” tanya Yoora sambil memandang Taemin yang sedang melihat kembang api di langit.
“Ne.” jawabnya santai.
“Ulang tahunku yang kau rayakan di jembatan. Sejak saat itu, setiap malam aku pergi ke sana untuk menenangkan diriku. Aku selalu mendengar lagu ‘Your Name’ saat di sana. Suasana itu membuatku lebih dan sangat tenang dan nyaman. Sejak saat itu juga, aku menyadari ada perasaanku yang berbeda untukmu. Perasaan yang menyatakan bahwa aku menyukai dirimu melebihi sahabat tapi, perasaan cinta yang baru pertama kali kurasakan! Aku terus pergi ke jembatan itu untuk mengartikan perasaan ini dan akhirnya aku yakin saat kita pergi ke sana lagi tadi siang! Ottoke dangsin?” jelas Yoora panjang lebar dan sesekali tersenyum.
“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu sejak awal bertemu denganmu! Tapi, aku tidak mengerti apa arti perasaan ini sampai kau menjauhiku. Sekarang aku yakin mengapa aku merindukanmu karena perasaan cinta ini!” jelas Taemin sambil memandang Yoora.
“Yoora!” panggil Taemin lembut. Yoora pun menoleh ke arah Taemin. Taemin pun mencium Yoora kilat.
“Tubuhku tidak bisa bergerak ‘lagi’! Mungkin, aku harus menerima ini semua! Tidak ada kecurangan dan kebohongan lagi. Aku bisa merasakan ketulusan perasaannya dan aku harus membalasnya dengan lebih tulus lagi!” pikir Yoora saat tersentak karena, Taemin menciumnya.
“Oppa! Sepertinya aku tidak akan pernah dan bisa melupakan KPOP!” gumam Yoora sambil memeluk lututnya.
“Wae?” tanya Taemin.
“Saat aku berusaha melupakan KPOP sebenarnya, aku hanya mengurangi kesibukanku yang berhubungan dengan KPOP. Aku selalu mendengar news dan lagu KPOP dari radio, televisi, dan teman-temanku. Sekarang sepertinya aku akan kembali menjadi Yoora 5 tahun yang lalu, Yoora yeoja yang gila pada KPOP!” jelas Yoora sambil sesekali tersenyum.
“Wae kau bisa kembali?” lagi-lagi Taemin bertanya dengan nada datar.
“Karena, aku bukan gila pada KPOP! Tapi, salah seorang penyanyi KPOP tergila-gila padaku!” lanjut Yoora. Taemin hanya mengangguk.
“Oppa!!!” pekik Yoora kesal karena, tidak didengarkan.
“Oppa! Sebenarnya, kita telah melanggar perjanjian kita! Perjanjian untuk selalu bersahabat dan bersama!” gumam Yoora.
“Ne. Tapi, kau hanya melanggar satu perjanjian dan aku dua!” sahut Taemin.
“Aku satu, Oppa dua. Memang Oppa apa saja?” tanya Yoora bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku melanggar perjanjian bahwa aku akan selalu bersahabat denganmu dan akan melupakanmu! Kita juga sudah mendapat hukumannya kan!” ujar Taemin santai.
“Hukuman?” tanya Yoora heran.
“Hukuman yang kita dapatkan adalah kau harus menjadi yeojachingumu dan aku harus menjadi namjachingumu!” jawab Taemin lembut dengan senyumnya yang paling cute.
“Oppa!!!” kesal Yoora seraya membalas senyuman Taemin.
“Sebagai buktinya, terimalah ini!” ujar Taemin membuka sebuah kotak yang berisi cincin permata. Taemin pun memakaikannya ke jari manis Yoora. (*ha, mau! Oppa nappa! ‘ssst, diem dulu ni author’)
“Jeongmal ghamsahamnida!” seru Yoora lalu bersandar ke pundak Taemin.
_I confessed all my feeling! Thank you, because you accept my confession, Lee Taemin Oppa!_
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar